Rabu, 28 Januari 2015

Melakukan Investigasi Wilayah Kerusakan




Tujuan Pembelajaran
  1. Mengamati aliran trafik data pada jaringan di berbagai topologi.
  2. Mengamati perubahan aliran pada titik kerusakan pada jaringan
Persiapan
Pada aktifitas ini terdpat 3 topologi yang berbeda: sebuah partial mesh, sebuah star, dan sebuah full mesh. Ketika memulai aktifitas, Anda akan menunggu sampai jaringan konvergen. Hal ini butuh waktu bentar. Setelah jaringan konvergen, Anda akan menemui kondisi sebagai berikut :
  1. Pada topologi partial mesh terdapat satu lampu indikator pada switch PM4 yang tetap oranye.
  2. Pada topologi star, semua lampu indikator akan berwarna hijau .
  3. Pada topologi full mesh terdapat 3 lampu oranye; satu pada switch FM1 dan 2 pada switch FM3.
Pada topologi partial mesh dan full mesh , jaringan memiliki link rangkap. Untuk mencegah looping pada proses switching dimatikan yang ditandai dengan lampu warna oranye. Sebagai catatan pada topologi star tidak memiliki link rangkap antar switch. Mengapa semua lampu indikator berwarna hijau pada topologi ini?
Rancangan Distribution Layer yang baik dapat membatasi bagian dari jaringan yang terpengaruh ketika terjadi kerusakan jaringan. Kerusajan pada sebuah alat seharusnya tidak menyebabkan kegagalan jaringan keseluruhan dong. Pada aktifitas ini Anda akan mengamati aliran data pada jaringan masing-masing topologi. Kemudian Anda akan dikenalin sama penyebab kerusakan pada masing-masing topologi dengan menghapus trunk link antar dua switch. Setelah link tersebut dibuang, Anda butuh waktu sebentar sampau jaringan konvergen lagi. Setelah jaringan konvergen lagi, Anda akan kembali mengamati aliran data dan catatlah bagaimana kerusakan pada jaringan mempengaruhi aliran data.
Langkah 1: Amati aliran data pada topologi partial mesh topology
  1. Setelah jaringan konvergen, pilih simulation mode dengan meng-klik bagian Simulation.
  2. Secara default, Scenario 0 akan ditampilin pada jendela Scenario. Klik pada tombol Auto Capture/Play dan amati aliran data dari PM3B ke PM4B
  3. Ketika jendela Buffer Full tampil, klik Clear Event List.
  4. Klik tombol Reset Simulation. 
Lankah 2: Mengenali titik kerusakan pada topologi partial mesh
  1. Hapus trunk link antara PM2 dan PM4
  2. Ubah ke simulation mode dengan meng-klik bagian Simulation.
  3. Jalanin Scenario 0 lagi dengan meng-klik tombol Auto Capture/ Play dan amati aliran data dari PMB ke PM4B
  4. Ketika jendela Buffer Full tampil, klik Clear Event List.
  5. Klik tombol Reset Simulation. 
Langkah 3: Amati aliran data pada topologi star topology
  1. Gulung ke bawah pada jendela Scenario dan pilih Scenario 1.
  2. Jalankan Scenario 1 dengan meng-klik tombol Auto Capture/ Play dan amati aliran data dari S2A ke S4B
  3. Klik Clear event List ketika jendela Buffer Full tampil dan klik tombol Reset Simulation.
Langkah  4: Mengenali penyebab kerusakan pada topologi star
  1. Hapus trunk link antara Star1 dan Star2
  2. Selama topologi star nggak punya redundant links, maka jaringan nggak butuh re-converge
  3. Mainkan Scenario 1 lagi dan amati aliran data dari S2A ke S4B
  4. Klik Clear event List ketika jendela Buffer Full muncul dan klik tombol Reset Simulation.
Langkah 5: Amati aliran data pada topologi full mesh
  1. Gulung ke bawah jendela Scenario dan pilih Scenario 2
  2. Mainkan Scenario 2 dengan meng-klik tombol Auto Capture / Play dan amati aliran data dari FM1A ke FM3B
  3. Klok Clear event List ketika jendela Buffer Full muncul dan klik tombol Reset Simulation.
Langkah 6: Mengenali penyebab kerusakan pada topologi full mesh
  1. Hapus trunk link antara FM2 dan FM3
  2. Pindah ke Realtime mode
  3. Beri waktu bentar agar jaringan konvergen.(Orang sabar disayang Tuhan.)
  4. Mainkan Scenario 2 lagi dan amati aliran data dari FM1A ke FM3B
  5. Klik Clear event List ketika jendela Buffer Full mucul dan klik tombol Reset Simulation.
Umpan Balik
  1. Jelaskan perbedaan pengaruh yang terjadi ketika terjadi kegagalan jaringan di topologi star, topologi partial mesh dan full mesh?
a)    Pada topologi star, ketika terjadi kegagalan pada salah satu peralatan jaringan maka link dengan segmen jaringan yang lain pasti terputus karena topologi star tidak memiliki jalur back-up. Selain itu, kerusakan pada peralatan pusat akan mempengaruhi fungsi jaringan secara keseluruhan.
b)    Pada topologi partial mesh, setidaknya memiliki sebuah jalur cadangan (back-up) sehingga ketika link utama bermasalah maka terdapat jalur alternatif sebagai sarana transmisi data.
c)    Pada topologi full mesh, reliabilitas link sangat tinggi (99,999% atau five-nine) sesuai untuk Core Layer yang memang sebisa mungkin jaringan di Core Layer harus selalu up.
  1. Pengaruh apa yang ditimbulkan ketika kita membuang link pada topologi star, tepatnya pada switch Star2 dengan komputer-komputernyaHanya komputer-komputer tersebut yang terpengaruh, sementara fungsi jaringan secara keseluruhan sama sekali tidak terganggu.

Membandingkan tabel routing dari topologi partial mesh


Tujuan
  • Membandingkan tabel routing dari topologi partial mesh dengan topologi full mesh
  • Mengobservasi konvergensi jaringan ketika sebuah interface dimatikan kemudian dinyalakan kembali.
  • Menentukan paket EIGRP pada Simulation Mode untuk mengetahui proses konvergen pada jaringan.
Persiapan
Anda telah disediakan sebuah topologi partial mesh dan full mesh pada pembelajaran ini. Tiap-tiap interface telah diberikan alamat dan EIGRP telah dikonfigurasikan sebagai routing protocol. Seluruh konfigurasi yang penting telah dimasukkan pada tiap-tiap router dan jaringan telah berfungsi secara penuh.
Langkah 1: Bandingkan tabel routing dari topologi partial mesh dan topologi full mesh
  1. Gunakan alat Inspect untuk mengetahui routing table pada HQP dan HQF.
  2. Perhatikan perbedaan jumlah rute masing-masing tabel.
  3. Catat rute ke jaringan 192.168.0.204 pada HQP dan rute ke jaringan 172.16.3.196 pada HQF.
    • Rute ke 192.168.0.204
    • Melalui 192.168.0.193
    • Melalui 192.168.0.198
    • Rute ke 172.16.3.196
    • Melalui 172.16.3.193
    • Melalui 172.16.3.206
Langkah 2: Tentukan tabel routing dan amati proses konvergen pada topologi partial mesh
  1. Matikan interface S0/0/1 pada BR2P dan amati routing table pada HQP.
  2. Catat bahwa dua rute ke jaringan 192.168.0.204 telah dihilangkan.
  3. Nyalakan kembali interface S0/0/1 dan amati routing table pada HQP.
  4. Amati konvergensi jaringan (hal ini mungkin memerlukan waktu beberapa menit bagi kedua rute untuk terinstall kembali)
  5. Perhatikan routing table pada HQP lagi. Interface manakah yang digunakan untuk meraih jaringan 192.168.0.160? Serial 0/0/1
  6. Pada router BR2P, matikan interface S0/0/0. Akan bagaimanakah HQP mendapatkan rute ke jaringan 192.168.0.160 sekarang? Melalui Serial0/0/0 dengan Next Hop IP 192.168.0.193 atau melalui Serial0/1/0 dengan Next Hop IP 192.168.0.202
  7. Nyalakan kembali interface S0/0/0 pada BR2P dan amati proses konvergensi pada jaringan  (hal ini mungkin memerlukan waktu beberapa menit).
  8. Apa yang terjadi pada rute ke jaringan 192.168.0.160 yang ada di routing table? Melalui Serial0/1/0 dengan Next Hop IP 192.168.0.206
  9. Ulangi proses langkah 2 pada Simulation Mode dengan hanya filter EIGRP saja yang aktif. Gunakan tombol Capture / Forward untuk menentukan paket EIGRP dan routing table sebagai cara jaringan menjadi konvergen.
Langkah 3: Menentukan routing table dan mengamati konvergensi jaringan pada topologi fully mesh
  1. Matikan interface S0/0/1 pada BR2F dan amati routing table pada HQF.
  2. Catat bahwa dua rute ke jaringan 172.16.3.196 telah dihilangkan.
  3. Nyalakan ulang interface S0/0/1 dan amati routing table pada HQF.
  4. Amatilah proses konvergensi jaringan (hak ini mungkin memerlukan waktu beberapa menit sebelum kedua rute terpasang kembali).
  5. Tentukan routing table pada HQF lagi. Interface manakah yang digunakan untuk menjangkau jaringan 172.16.3.128? Serial0/0/1
  6. Pada router BR2F, matikan interface S0/0/0. Akan bagaimanakah HQF mendapatkan rute ke jaringan 172.16.3.128 sekarang? Melalui Serial0/0/0 dengan Next Hop IP 172.16.3.193 dan melalui Serial0/1/0 dengan Next Hop IP 172.168.3.210
  7. Nyalakan ulang interface S0/0/0 pada BR2F dan amati konvergensi jaringan (ini mungkin memerlukan waktu beberapa menit).
  8. Apa yang terjadi dengan rute ke jaringan 172.16.3.128 pada routing table? Hanya tersisa sebuah rute ke jaringan tersebut yaitu melalui Serial0/1/0 dengan Next Hop IP 172.168.3.210
  9. Ulangi proses pada langkah 3 di Simulation Mode dengan hanya filter EIGRP yang aktif. Gunakan tombol Capture / Forward untuk menentukan paket EIGRP dan routing table sebagai cara jaringan menjadi konvergen.
Umpan Balik
  1. Pada router BR2P, ketika Anda mematikan interface S0/0/0, mengapa sebuah rute asli ke jaringan 192.168.0.160 digantikan dengan dua rute? Karena router tetap akan mencari jalur/rute menuju jaringan tersebut. Berdasarkan atas topologi partial mesh yang ada, terdapat dua rute ke jaringan tersebut yaitu melalui Serial0/0/0 dengan Next Hop IP 192.168.0.193 atau melalui Serial0/1/0 dengan Next Hop IP 192.168.0.20
  2. Apa yang menjadi keunggulan dan kelemahan dari topologi full mesh? Salah satu keunggulannya adalah redundant link pasti dimiliki oleh topologi full mesh sehingga topologi ini diharapkan dapat meminimalisir adanya kegagalan koneksi. Sedangkan kelemahannya adalah tingkat kesulitan dalam mengatur jaringan lebih tinggi selain biaya yang mahal karena banyaknya redundant link yang harus dibangun.

Jumat, 11 Juli 2014

Mengkonfigurasikan ACL Di Packet Tracer


PC dan Server
IP Address
Subnet Mask
Default Gateway
PC0
172.16.10.5
255.255.255.0
172.16.10.1
PC1
172.16.40.89
255.255.255.0
172.16.40.1
PC2
172.16.70.5
255.255.255.0
172.16.70.1
PC3
172.16.20.163
255.255.255.0
172.16.20.1
PC4
172.16.50.75
255.255.255.0
172.16.50.1
PC5
172.16.50.7
255.255.255.0
172.16.50.1
PC6
172.16.80.16
255.255.255.0
172.16.80.1
Server
172.16.70.2
255.255.255.0
172.16.70.1



Dengan ketentuan:
1.      Computer dengan ip address 172.16.40.89 tidak boleh diakses oleh semua komputer dari network 172.16.10.0/24 selain dari itu boleh
2.      Computer dengan ip address 172.16.10.5 tidak boleh mengakses computer dengan ip address 172.16.50.7 tapi yang lain boleh.
3.      Computer dengan ip address 172.16.10.5 boleh melakukan telnet ke router RedDeer yang lain tidak.

Berikut konfigurasi pada router:
Router>enable
Router#conf
Configuring from terminal, memory, or network [terminal]?
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Router(config)#hostname Edmonton
Edmonton(config)#int fa0/0
Edmonton(config-if)#ip add 172.16.10.1 255.255.255.0
Edmonton(config-if)#no shut

%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0, changed state to up
Edmonton(config-if)#ex
Edmonton(config)#int fa0/1
Edmonton(config-if)#ip add 172.16.20.1 255.255.255.0
Edmonton(config-if)#no shut

%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/1, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/1, changed state to up
Edmonton(config-if)#ex
Edmonton(config)#int s0/0/0
Edmonton(config-if)#ip add 172.16.30.1 255.255.255.252
Edmonton(config-if)#clock rate 64000
Edmonton(config-if)#no shut
Edmonton(config)#router rip
Edmonton(config-router)#version 2
Edmonton(config-router)#network 172.16.10.0
Edmonton(config-router)#network 172.16.20.0
Edmonton(config-router)#network 172.16.30.0
Edmonton(config-router)#ex
Edmonton(config)#ex
Edmonton#
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
Edmonton#wr
Building configuration...
[OK]
Edmonton#




Router>enable
Router#conf
Configuring from terminal, memory, or network [terminal]?
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Router(config)#hostname RedDeer
RedDeer(config)#int fa0/0
RedDeer(config-if)#ip add 172.16.40.1 255.255.255.0
RedDeer(config-if)#no shut

%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0, changed state to up
RedDeer(config-if)#ex
RedDeer(config)#int fa0/1
RedDeer(config-if)#ip add 172.16.50.1 255.255.255.0
RedDeer(config-if)#no shut

%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/1, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/1, changed state to up
RedDeer(config-if)#ex
RedDeer(config)#int s0/0/0
RedDeer(config-if)#ip add 172.16.30.1 255.255.255.252
RedDeer(config-if)#no shut

%LINK-5-CHANGED: Interface Serial0/0/0, changed state to up
RedDeer(config-if)#ex
RedDeer(config)#int s0/1/0
RedDeer(config-if)#
RedDeer(config-if)#ip add 172.16.60.1 255.255.255.252
RedDeer(config-if)#clock rate 64000
RedDeer(config-if)#no shut

%LINK-5-CHANGED: Interface Serial0/1/0, changed state to down
RedDeer(config-if)#ex
RedDeer(config)#int s0/0/0
RedDeer(config-if)#ip add 172.16.30.2 255.255.255.252
RedDeer(config-if)#no shut
RedDeer(config-if)#ex
RedDeer(config)#
%LINK-5-CHANGED: Interface Serial0/1/0, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface Serial0/1/0, changed state to up
RedDeer(config)#router rip
RedDeer(config-router)#version 2
RedDeer(config-router)#network 172.16.30.0
RedDeer(config-router)#network 172.16.40.0
RedDeer(config-router)#network 172.16.50.0
RedDeer(config-router)#network 172.16.60.0
RedDeer(config-router)#



Router>enable
Router#conf
Configuring from terminal, memory, or network [terminal]?
Enter configuration commands, one per line.  End with CNTL/Z.
Router(config)#hostname Calgary
Calgary(config)#int fa0/0
Calgary(config-if)#ip add 172.16.70.1 255.255.255.0
Calgary(config-if)#no shut

%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/0, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/0, changed state to up
Calgary(config-if)#ex
Calgary(config)#int fa0/1
Calgary(config-if)#ip add 172.16.80.1 255.255.255.0
Calgary(config-if)#no shut

%LINK-5-CHANGED: Interface FastEthernet0/1, changed state to up
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface FastEthernet0/1, changed state to up
Calgary(config-if)#ex
Calgary(config)#int se0/0/0
Calgary(config-if)#ip add 172.16.60.2 255.255.255.252
Calgary(config-if)#no shut

%LINK-5-CHANGED: Interface Serial0/0/0, changed state to up
Calgary(config-if)#ex
Calgary(config)#
%LINEPROTO-5-UPDOWN: Line protocol on Interface Serial0/0/0, changed state to up
Calgary(config)#router rip
Calgary(config-router)#version 2
Calgary(config-router)#network 172.16.60.0
Calgary(config-router)#network 172.16.70.0
Calgary(config-router)#network 172.16.80.0
Calgary(config-router)#
Calgary#
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console

Perintah ACL pada RedDeer
RedDeer(config)#access-list 10 deny 172.16.10.0 0.0.0.255
RedDeer(config)#access-list 10 permit any
RedDeer(config)#int fa0/0
RedDeer(config-if)#ip access-group 10 out

Perintah ACL pada Edmonton
Edmonton(config)#access-list 115 deny ip host 172.16.10.5 host 172.16.50.7
Edmonton(config)#access-list 115 permit ip any any
Edmonton(config)#int fa0/0
Edmonton(config-if)#ip access-group 115 in
Edmonton(config-if)#end
Edmonton#
%SYS-5-CONFIG_I: Configured from console by console
Edmonton#wr
Building configuration...
[OK]
Edmonton#
  

Perintah telnet pada router RedDeer :
RedDeer(config)#access-list 20 permit host 172.16.10.5
RedDeer(config)#line vty 0 4
RedDeer(config-line)#access-class 20 in
Hanya host 172.16.10.5 yang dapat melakukan telnet ke router RedDeer.


Kamis, 01 Mei 2014

Lab 4.2.5 Calculating a VLSM Addressing Scheme


VLSM (Variable Length Subnet Mask) adalah sebuah cara pengelolaan pengalamatan IP yang lebih terstruktur. Perhitungan IP Address menggunakan metode VLSM adalah metode yang berbeda dengan memberikan suatu Network Address lebih dari satu subnet mask, berbeda jika menggunakan CIDR dimana suatu Network ID hanya memiliki satu subnet mask saja. VLSM memiliki manfaat untuk mengurangi jumlah alamat yang terbuang. Berikut adalah sebuah  kasus dan dihitung menggunakan vlsm



Pertama,  cari host yang paling banyak digunakan. yaitu pada LANA dengan 55 Host,  LANC (26 Host), LAND (21 Host), LANB (12Host), dan masing – masing  WAN 2 Host. Disini diberikan IP 192.168.1.0/24, dan  akan membaginya dengan VLSM.


NetMaskDesimal
NetMask Biner
Format CIDR
Jumlah Host
255.255.255.0
11111111.11111111.11111111.00000000
/24
254
255.255.255.128
11111111.11111111.11111111.10000000
/25
126
255.255.255.192
11111111.11111111.11111111.11000000
/26
62
255.255.255.224
11111111.11111111.11111111.11100000
/27
30
255.255.255.240
11111111.11111111.11111111.11110000
/28
14
255.255.255.248
11111111.11111111.11111111.11111000
/29
6
255.255.255.252
11111111.11111111.11111111.11111100
/30
2



1.  Menghitung IP untuk LAN A ( 56Host )
Jika menggunakan /24 terlalu banyak Host yang tersisa ,  karena hanya membutuhkan 58 Host. Maka, tentukan subnet mask yang memiliki host lebih dari 56, dilihat dari tabel diatas yang terpenuhi adalah /26 (62 Host) dengan subnet 255.255.255.192.
berikut kemungkinan IP yang /26:

Network
IP Range
Broadcast
192.168.1.0
192.168.1.1 - 192.168.1.62
192.168.1.63
192.168.1.64
192.168.1.65 - 192.168.1.126
192.168.1.127
192.168.1.128
192.168.1.129 - 192.168.1.190
192.168.1.191
192.168.1.192
192.168.1.193 - 192.168.1.254
192.168.1.255


untuk 56 Host  menggunakan IP Address 192.168.1.0/26
Network 192.168.1.0
IP Range 192.168.1.1-192.168.1.62
Broadcast 192.168.1.63

2. Menghitung IP untuk LAN C ( 26 Host ) dan LAN D (21 Host)
Tentukan subnet mask yang memiliki 26 host dan 21 Host lebih, dilihat dari tabel subnetting diatas yang terpenuhi adalah /27 (30 Host) dengan subnet 255.255.255.224.
Karena diLAN A telah menggunakan IP 192.168.1.0/26 , maka menggunakan IP dibawahnya yang belum digunakan yaitu 192.168.1.64/26. seperti cara sebelumnya dengan merubah subnet mask nya menjadi 255.255.255.224.
berikut kemungkinan IP yang digunakan (/27): 

Network
IP Range
Broadcast
192.168.1.64
192.168.1.65 - 192.168.1.94
192.168.1.95
192.168.1.96
192.168.1.97 - 192.168.1.126
192.168.1.127
192.168.1.128
192.168.1.129 - 192.168.1.158
192.168.1.159
192.168.1.160
192.168.1.161 - 192.168.1.190
192.168.1.191


kareana ada 2 LAN yang membutuhkan 26 dan 21 Host, maka untuk LAN C menggunakan IP Address 192.168.1.0/27
Network 192.168.1.64
IP Range 192.168.1.65 - 192.168.1.94
Broadcast 192.168.1.95



LAN D

IP Address 192.168.1.0/27
Network 192.168.1.96
IP Range 192.168.1.97 - 192.168.1.126
Broadcast 192.168.1.127

3. Menghitung IP untuk LAN B ( 12 Host )

Tentukan subnet mask yang memiliki 12 Host lebih, dilihat dari tabel subnetting diatas yang terpenuhi adalah /28 (14 Host) dengan subnet 255.255.255.240.
Karena diLAN D telah menggunakan IP 192.168.1.96/27 , maka menggunakan IP dibawahnya yang belum digunakan yaitu 192.168.1.128/28. seperti cara sebelumnya dengan  merubah subnet mask nya menjadi 255.255.255.240.
berikut kemungkinan IP yang digunakan (/28):

Network
IP Range
Broadcast
192.168.1.128
192.168.1.129 - 192.168.1.142
192.168.1.143
192.168.1.144
192.168.1.145 - 192.168.1.158
192.168.1.159
192.168.1.160
192.168.1.161 - 192.168.1.174
192.168.1.175
192.168.1.176
192.168.1.177 - 192.168.1.190
192.168.1.191

Untuk 12 Host menggunakan IP address 192.168.1.0 /28
Network 192.168.1.128
IP Range 192.168.1.129-192.168.1.42
Broadcast 192.168.1.143

Nah, sekarang menentukan IP address untuk setiap WAN.

Menentukan WAN caranya sama dengan memberikan IP Address pada LAN. WAN membutuhkan 2 Host jadi tentukan subnet mask yang memiliki 2 Host, dilihat dari tabel subnetting diatas yang memenuhi adalah /30 (2 Host) dengan subnet 255.255.255.252. Karena diLAN B telah menggunakan IP 192.168.1.128/28 , maka menggunakan IP dibawahnya yang belum digunakan yaitu 192.168.1.144/30. Seperti cara sebelumnya dengan  merubah subnet mask nya menjadi 255.255.255.252.
berikut kemungkinan IP yang digunakan (/30):

Name
Network
IP Range
Broadcast
WAN1
192.168.1.144
192.168.1.145 - 192.168.1.146
192.168.1.147
WAN2
192.168.1.148
192.168.1.149 - 192.168.1.150
192.168.1.151
WAN3
192.168.1.152
192.168.1.153 - 192.168.1.154
192.168.1.155